Senin, 04 Februari 2013

Tahun Politik Muka Dua


Tahun Politik Muka Dua
Asrudin ;   Peneliti di Lingkaran Survei Indonesia (LSI)
dan Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia -AROPI
JAWA POS, 04 Februari 2013
  

BANYAK orang yang mengatakan, 2013 adalah "tahun politik". Akan banyak kejutan politik menyibak sebelum Pemilu 2014 berlangsung. Sayangnya, kejutan-kejutan itu bukan dalam arti positif, melainkan negatif. 

Tahun 2013 diprediksi menjadi kuburan karir para politisi yang lengah dan memiliki celah untuk dikasuskan secara hukum. Masih hangat, petinggi Partai Demokrat (PD) Andi Mallarangeng (AM) ditetapkan KPKsebagai tersangka korupsi terkait kasus Hambalang tahun anggaran 2010-2012. Penetapan AM sebagai tersangka membuatnya memutuskan mundur dari jabatan Menpora, serta sekretaris dan anggota Dewan Pembina PD. 

PKS saat ini juga mengalami kepahitan "tahun politik". Tidak tanggung-tanggung, presiden partai ini, Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus dugaan suap impor daging sapi. Mengikuti jejak AM dari PD, LHI pun akhirnya memutuskan mundur dari jabatannya dan digantikan Anis Matta.

Yang menarik dan perlu diperhatikan adalah para politisi yang tersandung masalah selama ini dikenal publik sebagai sosok "bersih". Mereka juga petinggi partai yang selama ini giat mengampanyekan perang melawan korupsi. PD terkenal dengan slogan, "Katakan Tidak Pada Korupsi," sementara PKS konsisten dengan slogan "Bersih dan Peduli." Tak heran, terkuaknya skandal menyingkap "topeng" bersih itu. 

Dalam literatur ilmu politik, fenomena topeng politisi tersebut yang sering disebut "politik muka dua".

Politik Mandevillian 

Ilmuwan politik dari University of Cambridge, David Runciman, dalam bukunya berjudul Political Hypocricy: The Mask of Power, from Hobbes to Orwell and Beyond (2010) menjelaskan bahwa politik muka dua merupakan cermin kemunafikan politisi.

Menurut Runciman, istilah kemunafikan berakar dari dunia teater dan agama. Di atas panggung para aktor sering berpura-pura memainkan peran yang sama sekali bukan dirinya. Di luar panggung, kepandaian mereka menampilkan lebih dari satu wajah dapat menimbulkan potensi tidak dapat dipercaya. Sebagaimana aktor yang dinilai oleh penontonnya, politisi juga senantiasa diamati publik. Mereka akan selalu menunjukkan wajah kebaikan yang diharapkan, sering bukan wajah yang sesungguhnya, untuk mendapatkan tepuk tangan meriah pendukung dan meredam pengkritiknya. Usaha memainkan peran, baik oleh aktor dan politisi ini, menurut Runciman, adalah kemunafikan yang menyuguhkan penipuan jenis tertentu. 

Sementara kemunafikan dalam agama bisa merujuk pada perbuatan kesalehan yang ditunjukkan untuk menipu orang lain. Seseorang yang munafik itu disebut bermuka-dua: mengenakan topeng kesalehan untuk menutupi sifat buruknya.

Dalam The Fable of the Bees (1970), filsuf Bernard Mandeville (1670-1733) memasukkan konsep kemunafikan sebagai antitesis kesalehan. Dalam karyanya itu, Mandeville menyerang pandangan Shaftesbury (1671-1713) dan para moralis awal abad XVIII lainnya yang percaya bahwa manusia secara alami bersikap baik dan sangat mungkin bersikap saleh. Namun, Mandeville menganggap pandangan itu merupakan suatu bentuk penyangkalan terhadap sifat hakiki seseorang yang pada dasarnya penuh nafsu. 

Dalam buku An Enquiry into the Origins of Honour and the Usefulness of Christianity in War (1971), Mandeville menjelaskan lebih lanjut bahwa politisi munafik adalah orang yang berpura-pura saleh, dan mereka tahu kepura-puraan itu salah. Mereka memperlihatkan kesalehan dan ketaatan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan kepercayaan.

Jangan Lagi Menipu 

Skandal suap dan korupsi yang terkuak pada tahun politik 2013 ini merupakan situasi yang mirip dengan politik Mandevillian, yakni kemunafikan bersembunyi di balik topeng kesalehan.

Dalam konteks politik di Indonesia, sikap kemunafikan politisi (politik muka dua) ini dapat diterjemahkan sebagai strategi mengelabui atau menipu pemilih (konstituen). Namun, politisi sering lupa, sikap ini bisa menjadi bumerang jika mereka lengah dan memiliki celah untuk dikasuskan secara hukum atau dijadikan sasaran kritik, baik oleh media ataupun lawan politiknya.

Jika itu terjadi, bau busuk politisi pun tersebar dengan cepat dan tercium publik sehingga mengakibatkan kekecewaan, terutama pada konstituennya. Dalam kasus LHI, seorang kader PKS, Aulia Gurdi, dalam tulisannya yang menyentuh di Kompasiana, "Antara Saya, PKS, dan Perjuangan Dakwah," mengungkapkan kekecewaannya terkait skandal suap yang menimpa presiden partai dambaannya tersebut.

Aulia mengatakan, "Kalau saja boleh ditanya siapa yang paling terpukul dengan adanya kasus korupsi yang menimpa presiden PKS LHI, tentu mereka adalah para kader dan simpatisan partai berlabel Islam ini. Dulu saya amat bangga menjadi kader PKS yang mengusung slogan "Bersih dan Peduli" ini. Partai ini berjalan dengan misi yang sungguh mulia sejak awal. Platformnya dibuat begitu sempurna dengan cita-cita yang sungguh luhur. Dalam perjalanan kemudian, saya temui begitu banyak hal yang mencoreng kemuliaannya. Akhirnya saya sadari kemudian, kumpulan partai ini adalah juga jamaah manusia yang pasti tak maksum dari dosa. Tak satu kasus ini saja yang terjadi. Sebelumnya, kasus pornografi yang menjerat anggota dewan partai ini tak kurang menjadi pukulan paling telak yang sungguh membuat siapa pun kader shock."

Kekecewaan Aulia hanyalah satu di antara banyak kekecewaan kader dan simpatisan PKS. Pelajaran yang bisa dipetik dari hal ini adalah bahwa politik muka dua politisi tidak lagi bisa dijadikan andalan untuk menipu dan mendapatkan kepercayaan publik. Pada saatnya wajah sesungguhnya para politisi akan terlihat juga dan mengakibatkan politisi terjerat hukum, sanksi sosial, serta kehilangan karir politik, dan integritasnya.

Karena itu, mengingat "tahun politik" 2013 masih panjang, penetapan tersangka AM dan LHI bukan hanya menjadi pukulan telak bagi PD dan PKS, tapi juga peringatan keras bagi partai lain agar berhati-hati menjelang Pemilu 2014. Potensi terbongkarnya kasus-kasus hukum politisi dari partai lain mungkin saja akan terjadi di sepanjang tahun ini dan menjadi bencana politik yang menyusutkan jumlah konstituen pada Pemilu 2014. 

1 komentar: