Sabtu, 23 Februari 2013

Prinsip Politik Politikus Islam


Prinsip Politik Politikus Islam
Ahmad Fuad Fanani Direktur Riset MAARIF Institute for Culture and Humanity
REPUBLIKA, 22 Februari 2013


Resonansi Nasihin Masha yang berjudul "Keharusan Politik Asketis Partai Islam" (Republika, 15 Februari 2013) menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Nasihin Masha mengungkapkan, politikus dari partai Islam saat ini banyak yang terjebak dalam kemewahan dan laku korupsi sebagaimana politikus lain nya.

Perilaku itu bisa jadi akibat pergaulan kaum politikus dan kondisi perpolitikan yang sepertinya menuntut gaya hidup yang baru. Akibatnya, banyak politikus Islam yang melupakan hakikat perjuangan dan basis sosialnya yang sebetulnya bisa didayagunakan tanpa harus memakai uang.

Kondisi perpolitikan di Indonesia memang sedang mengalami paradoks- paradoks yang memprihatinkan. Meskipun para politikus kita lebih ekspresif dan berani dalam mengkritik pemerintah, pada saat yang sama, mereka juga semakin canggih menjadi pialang anggaran dan melakukan transaksi-transaksi.

Tentu saja harus dicatat fakta masih ada minoritas politikus bersih di Indonesia. Ketika ada kritikan terhadap beberapa politikus partai Islam yang juga aktif bermain di Badan Anggaran DPR, mereka mengatakan bahwa politik butuh biaya tinggi. Bahkan, para politikus partai Islam itu menyatakan itulah realitas politik. 

Belajar dari Sejarah

Saya setuju dengan Nasihin Masha bahwa gaya hidup mewah dan politik yang menuntut biaya tinggi mengakibatkan politikus Islam terjebak dalam korupsi. Tren politik di Indonesia sekarang menjadikan banyak politikus menghalalkan segala cara. Akibatnya, hedonisme dan korupsi menjadi paket umum kebanyakan politikus di negeri ini. 
Kita semua wajib prihatin dengan kondisi itu. Pada saat rakyat hidup dalam kemiskinan dan kesusahan, para politikus justru menghamburkan uang rakyat. Politikus partai Islam hanya menjadi politikus "berjubah agama" yang sebetulnya tidak memperjuangkan dan mempraktikkan nilai-nilai agama.

Semestinya, para politikus Islam belajar dari sejarah. Pada zaman sebelum kemerdekaan, disebutkan bahwa reputasi HOS Tjokroaminoto sebagai pemimpin umat Islam mengalami krisis karena dia dianggap tidak amanah menggunakan uang partai. 
Meskipun tidak terbukti melakukan korupsi, ada pergunjingan di kalangan Partai Syarikat Islam (PSI) kalau Tjokroaminoto dianggap mencampuradukkan keuangan partai untuk urusan organisasi dan keluarganya. Isu ini berembus keluar dan mengakibatkan suara PSI terus menurun (Deliar Noer, Membincangkan Tokoh-Tokoh Bangsa, 2001). 

Mestinya politikus partai Islam berkaca kembali dari kasus itu. Terlebih, saat ini korupsi menjadi musuh bersama. Akan lebih baik jika para politikus Islam itu banyak membaca sejarah para tokoh bangsa yang mampu bertindak sebagai negarawan yang mementingkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. 

Dalam sejarah bangsa, para politikus Islam bisa mencari teladan dari sosok KH Agus Salim, Moh Hatta, dan Natsir dalam menjalani dunia politik. Menurut Agus Salim, leiden is lijden (memimpin adalah menderita). Prinsip ini tidak hanya menjadi pencitraan, tapi serius dipraktikkan oleh beliau yang terkenal sangat sederhana dan kekurangan dalam ekonomi, tapi sangat genius dalam gagasan dan strategi perjuangan untuk kemajuan bangsa. 

Dalam kesehariannya, Bung Hatta juga terkenal sangat berprinsip dan tidak berfoya-foya, bahkan untuk membayar listrik rumahnya pun sering menunggak. Natsir yang pernah menjadi perdana menteri pun juga terkenal dengan kesederhanaan hidupnya. Untuk zaman sekarang, gaya hidup Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad yang sangat sederhana juga bisa dijadikan model acuan.

Perubahan Fundamental

Berkaitan dengan asketisme politik, ada sebuah cerita dari mantan penting Negara Islam Indonesia (NII) yang sudah bertobat. Menurutnya, NII itu sangat ironis karena ketika para anggotanya rela melakukan dan mengorbankan apa pun untuk membiayai perjuangan, para pemimpinnya justru menikmati uang hasil perjuangan anggotanya dengan seenaknya. Mereka menggunakan dana perjuangan itu untuk poligami, bermain investasi, bergaya hidup mewah, dan perilaku hedonis lain. Jangan sampai politikus partai Islam melakukan hal serupa. Jika itu terjadi, perbedaan partai politik Islam dan partai lain hanya tinggal pada papan nama dan asasnya. 

Selain seruan agar para pemimpin partai Islam berperilaku asketis, perlu juga dibangun sistem yang mengikat dan ditegakkan secara tegas agar partai Islam tidak terus mundur. Sistem itu adalah transparansi pemasukan dan pengeluaran biaya politik partai. Selama ini, banyak transaksi politik yang syubhat (samar-samar). 

Yang juga penting, sebagaimana diserukan oleh Kuntowijoyo (2001), partai Islam harus menggantikan paradigma jihad psyche (semangat jihad) dengan falah psyche (semangat kesejahteraan). Dengan falah psyche, para politikus Islam harus menjadikan semangat kejayaan, sukses, keselamatan, dan kesejahteraan umat sebagai paradigma kerjanya. Jangan sampai mereka berdalih melakukan jihad politik, tapi sebetulnya hanya mencari legitimasi untuk melegalkan gaya hidup dan perilaku korupsinya. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar