Rabu, 13 Februari 2013

Ambiguitas Politik PKS


Ambiguitas Politik PKS
Ahmad Fuad Fanani ;   Direktur Riset Maarif Institute for Culture and Humanity; Pengajar di Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA
MEDIA INDONESIA, 12 Februari 2013


Prahara yang bermula dengan ditangkapnya Ahmad Fathanah yang diduga menerima suap dalam kasus impor daging sapi berdampak serius pada PKS.

Sebab, KPK telah menetapkan Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) yang merupakan pucuk pimpinan PKS sebagai tersangka dalam kasus ini. Citra PKS yang sering mengampanyekan diri sebagai partai yang `bersih dan peduli' sangat tercoreng.
Meskipun akhirnya LHI mengundurkan diri dan kemudian Anis Matta ditetapkan menjadi Presiden PKS, dampak prahara politik ini pasti akan berlangsung lama. Apalagi, kasus suap itu ditengarai melibatkan beberapa pejabat penting di Kementerian Pertanian. Jika kemudian para pejabat itu akhirnya menjadi tersangka juga, pasti citra PKS sebagai partai kader yang selama ini ingin berdiri di garda depan melawan korupsi akan semakin tergerogoti.

Para petinggi PKS banyak yang menggunakan mekanisme ofensif dengan menyatakan bahwa kasus ini penuh konspirasi dan rekayasa. Mekanisme pembelaan yang cenderung apologetis itu akan menjadi bumerang yang kembali ke PKS, terlebih lagi selama ini KPK tidak gegabah menetapkan seseorang menjadi tersangka sebelum ada bukti-bukti yang kuat. Justru, yang perlu dilakukan oleh PKS ialah bagaimana mereka mengevaluasi model politiknya selama ini dan memikirkan tentang masa depan partainya agar tetap jaya pascatragedi ini.

Dilema Politik PKS

Jika dibandingkan dengan partai-partai politik lainnya, selama ini citra PKS sebetulnya memang lebih mempunyai keunggulan. Ketika para kader di banyak partai lain tersandera oleh kasus korupsi, kader PKS nyaris belum ada yang tercokok oleh KPK. Meskipun beberapa waktu lalu ada kader PKS yang ditengarai terkena kasus korupsi, itu belum terbukti di r KPK. Tidak mengherankan jika K kasus LHI benar-benar menjadi tsunami politik yang mengguncang basis pertahanan PKS. Konsekuensinya, banyak pihak yang langsung mencibir PKS sebagai partai yang hanya pandai `berjubah agama' untuk meraup suara dan menarik simpati rakyat, padahal praktik politiknya setali tiga uang dengan yang lainnya.

PKS sebetulnya punya modal politik (political resources) yang besar untuk menjadi partai unggulan di masa depan. Pada Pemilu 2004, PKS adalah satu-satunya partai Islam yang mampu menaikkan perolehan suaranya, di saat suara partaipartai Islam lain stagnan. PKS juga menjadi partai Islam yang mampu mempertahankan suaranya pada level presentasi yang sama dengan Pemilu 2009. Keberhasilan itu karena PKS punya strategi kampanye yang jitu dengan mengusung tagline `bersih dan peduli'. Dukungan kader-kader di bawah yang militan juga turut menyumbangkan suara yang signifikan pada PKS.

Pada awalnya, memang PK (Partai Keadilan) yang kemudian bermetamorfosis menjadi PKS adalah contoh partai ideal yang ingin mewujudkan Indonesia baru berdasar ideologi Islam dan semangat reformasi. Idealitas itu didukung dengan fakta para pendiri dan aktivisnya yang mayoritas berasal dari kalangan sarjana atau kalangan terdidik. PKS yang pendiriannya didukung oleh jaringan gerakan tarbiah di Indonesia ini mengadopsi model politik yang dikembangkan Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir.

Namun, lambat laun seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan politik di Indonesia yang sangat cepat dan berbiaya mahal, tampaknya ada pergeseran juga dalam tubuh PKS. PKS akhirnya tidak hanya berorientasi menjadi partai kader yang menitikberatkan pada kualitas, tapi juga menjadi partai yang memburu kuantitas dan ikut bergabung dengan kekuasaan.

Sebagaimana dikupas dalam disertasi Ahmad-Norma Permata yang berjudul Islamist Party and Democratic Participation: Prosperous Justice Party (PKS) in Indonesia 1998-2006 (2008), bahwa ada pergeseran itu. PKS telah bergeser dari partai konservatif menjadi partai pragmatis yang ditandai dengan dominannya the realist element ketimbang the idealist element. Dalam hal itu, the party central office yang mestinya memediasi dua sayap tersebut larut dalam arus perubahan ini. Pada Pemilu 2004 dan 2009, partai ini berupaya meraup dukungan suara yang banyak, tanpa banyak memperhatikan apakah pemilihnya itu paham dengan ideologi partai ini atau tidak. Kedua sayap itu yang banyak terkenal di luar sebagai faksi keadilan (idealis) dan faksi kesejahteraan (realis atau pragmatis).

Dalam kondisi yang sedemikian itulah, PKS mengalami dilema-dilema politik.
Sebagaimana dianalisis Burhanuddin Muhtadi dalam buku Dilema PKS: Suara dan Syariah (2012). Dilema PKS untuk meraup suara yang banyak dan mengumpulkan modal politik juga banyak terlihat dari akrobat-akrobat politiknya selama ini. Meski PKS berada dalam kekuasaan, ia sering berperilaku standar ganda seolah-olah sebagai partai oposisi. PKS yang katanya memperjuangkan reformasi, menjelang Pemilu 2009 juga pernah terkena blunder karena mengiklankan gelar kepahlawanan untuk Soeharto yang menjadi target utama gerakan reformasi. Besar kemungkinan, kasus suap impor pada LHI ini adalah akibat langsung dari dilema politik PKS yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mencapai targetnya sebagai partai tiga besar di Pemilu 2014. Politik berbiaya tinggi yang saat ini menjadi tren di Indonesia tampaknya sudah mulai merasuk dalam tubuh PKS juga.

Langkah ke Depan

Ke depan, PKS bisa tetap mempertahankan suaranya atau besar kemungkinan juga akan terpuruk. Itu semua bergantung pada para pengurus dan aktivis PKS. Di saat pragmatisme politik menjadi ideologi banyak partai, rakyat Indonesia tentu menunggu dan menanti sebuah partai yang betul-betul bisa menjadi alternatif baru. Rakyat menginginkan perubahan, tapi bukan pseudo perubahan dan pencitraan saja.

Pernyataan bahwa kasus LHI adalah konspirasi akan menjadi kontraproduktif di mata rakyat dan seakan menentang semangat pemberantasan korupsi. Akan lebih bijak jika pengurus PKS melakukan halhal lain yang lebih produktif dan berorientasi masa depan. Daripada sibuk membuat alibi-alibi politik, lebih baik melakukan kerja-kerja politik untuk membangkitkan PKS dari keterpurukan.

Jika PKS ingin kembali meraup kejayaannya kembali, penguatan ideologi dan semangat reformasi yang menjadi ciri khas dan paradigma awalnya haruslah didengungkan dan ditegakkan kembali. Dengan begitu, para kader PKS dan rakyat Indonesia percaya bahwa partai ini berkomitmen melakukan pertaubatan sejati (taubatan nashuha) untuk Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.

Selain itu, PKS harus menunjukkan di depan kader-kadernya bahwa partai ini serius mengusung slogan `bersih dan peduli' dengan menerapkan pertama kali prinsip ini di rumahnya sendiri. Dengan begitu, kader akan percaya dan basisbasis partai ini akan kembali bergerak untuk meyakinkan publik bahwa partai ini bisa menjadi harapan di masa depan. Tentu saja, semua pilihan-pilihan politik ini kembali ke para pengurus dan kader PKS. Kita sekadar menyarankan saja. Wallahu A'lam bisshawab. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar